Semesta Itu Nyata Adanya
"Ku pikir tidak akan ada yang nyata..." ucap Malam.
"Lalu ku kira semesta itu ilusi" lanjutnya.
Seraya merentangkan gelap, Malam pun merenung. Menerka apa yang terjadi jika ia terlelap dan datanglah Fajar lalu menggantikan Purnama dan Bintang.
Malam menyesap indahnya cahaya lampu kota,
hingga teranglah ia.
Sesekali pun ia berpikir
"Semesta, sudahkah ku cukup untuk mereka?
Mengapa harus ada Pagi menggantikan gelapku, bintangku, purnamaku?
Ada kah mereka yang mengharapkan ku tetap menaungi mimpi serta cerita mereka pada kekasih sebelum mereka terlelap berdua?"
Malam meraung, menangis penuh kegelisahan. Semakin ia merasa semesta semakin fana.
Malam pun melihat seorang manusia, terlihat kerdil dari atas sini.
Menatap malam penuh mesra, di atas atap rumahnya,
memetik gitar, bersenandung cinta.
"Tetap lah menyatu pada malam,
untuk bulan dan serpihan cahaya di langit.
Jangan lelah untuk merengkuh ku
sebab semesta menjanjikanku kedamaian pada malam
sebab semesta menghadirkan malam untukku
agar berdamai pada hati,
berdamai pada mimpi,
dan berdamai dengan hari esok" ucap si manusia kerdil itu.
Malam terperangah,
tersipu.
Bukan kah kini ia tau bahwa hadirnya dirindukan seseorang?
Malam berbahagia,
semakin banyak serpihan cahaya di langit.
Membiarkan manusia-manusia kerdil yang lain
mencumbu lautan bintang dan kilauan purnama
hingga Malam terlelap.
Hingga pagi pun datang.
"Ku beri kalian kilauan cahaya temaram dari langit kelabu ku
agar kalian damai dalam tidur,
agar kalian berdamai pada pagi
agar kamu, yang menatapku penuh mesra
terpukau akan indahku,
akan cintaku
padamu" kata Malam.
Perlahan Malam memejamkan matanya,
terlelap Malam pada petikan gitar si manusia kerdil.
Perlahan Fajar pun datang,
manusia itu pun tersenyum bersiap untuk merelakan Malam
"terimakasih sudah sudi bersamaku" ucapnya.
Malam pun terlelap.
Semesta menjawab semua,
Semesta itu nyata adanya. Pikir Malam.

Comments