Reflection



Ga banyak yang tau apa itu “anak pertama”. Ya ga banyak, termasuk gue.

Apa cuman gue doang yang ga tau?

Awalnya gue mempunyai pemikiran kalo anak pertama itu kakak, yaudah kakak doang ga pake embel-embel yang lain. Just one word, kakak.
Gue sempet ga ambil pusing dengan jabatan gue sebagai kakak. Ya menurut gue tugas kakak itu cuman nge”babu”in adeknya, dan melarang si adek dengan larangan yan dikasih sama ibu bapak gue. Just it.
Gue ga terlalu memperhatikan perkembangan adek gue. Kayak hidupnya masing-masing, gue ya gue, lo yaudah lo aja gausah ngajak-ngajak. Itupun berlaku pada setiap barang yang kita punya, walaupun gue sering dimarahin sama ibu gue karena kita jarang berbagi, tempat, barang, dan yang paling sering gue permasalahkan adalah makanan.
Betapa susahnya dia untuk membagi gue setengah dari makanannya. Gue sering gondok.

Setiap orang punya karakteristik yang ideal, dan menurut gue karakter adek gue itu ga ideal.
Berawal dari ke-tidak sukaan gue sama kalimat ini “yang tua harus ngalah”. Kalimat itu terus-terusan disebut setiap kali gue merasa mainan gue direbut oleh adek gue. Dan setiap adek gue salah selalu gue yang dimarahin. Untuk anak yang umurnya 7 sampe 8 taun, itu sama sekali ga adil. Menurut gue waktu itu, adek gue terlalu dimanja sama ibu gue dan orangtua gue pilih kasih. Gue sempet berpikiran untuk kabur kerumah nenek gue yang waktu itu jaraknya cuman 100 meter dari rumah gue. Terus gue sembunyi dan menyamar menjadi oranglain. Sinetron banget sih. Iya gue tau kok.
Hingga pada akhirnya gue harus berbagi kamar dengan adek gue.
Well, it doesn’t makes any sense for me karena gue membagi wilayah itu menjadi dua. Dia ga boleh tidur ditempat gue begitu pun sebaliknya, dan barang-barang dia gaboleh ada ditempat gue.
Dan pada akhirnya gue sendiri yang melanggar pembagian wilayah tersebut. Gue sering tidur dikasur adek gue, naro barang ditempat dia, pokoknya segala sesuatu yang bersifat untuk “berantakkin” gue mulai dari tempat adek gue, karena gue ga mau tempat gue berantakkan. Licik? Emang.

Awalnya gue kira jadi si sulung itu kayak the entire world turned into you gitu. Gue bisa jadi boss, bisa jadi majikan, dan sometimes misery. Ternyata salah. Iya perspective gue tentang si sulung itu salah.
Emang sih bener the entire world turned into you, termasuk sins.

Gue baru tau itu semua ketika gue dan temen-temen gue sedang duduk-duduk citra disebuah restaurant fast food. Makan ga? Engga. Malu-maluin? Ga juga.
Ntah perbincangan apa yang sedang terjadi tiba-tiba nyambung kemasalah kakak-beradik. Yang gue inget adalah saat Ithan ngomong begini.

“Iya! Kakak itu bakalan dimintain pertanggung jawabannya di akhirat nanti!” dengan langtang, kayak Bung Tomo waktu lagi orasi.

Gue shock. Kaget.

“Iya! Pokoknya setiap yang namanya pemimpin itu bakalan dimintain pertanggung jawbannya di akhirat, bahkan ketua kelas juga!” sambung Farah.

“Untung gue ga pernah jadi ketua kelas Ya Allah!!!”
Gue lupa kalau ternyata gue pernah menjabat sebagai “ketua”. Emang bukan ketua kelas. Tapi tetep aja ada embel-embel ketuanya...

Akhirnya gue tau kenapa temen-temen gue setiap ditunjuk jadi ketua pasti pada ga mau, siapa pun itu. Ternyata bakalan diminta pertanggung jawabannya di akhirat, dan gue baru tau itu...

Okelah ketua masih bisa di ba-bi-bu-in, bagaimana sama si kakak? Bisa sih kalau dulu gue mau, gue ngomong ga mau punya adek, tapi telat. Gue sudah terlanjur menjadi si sulung, dan si sulung harus bertanggung jawab atas tindak-tanduk-tunduk adeknya. Beban sih pasti, apa lagi kalau your bro act like a dumbass, rasanya mau gue lelepin ke ember.

Pada akhirnya kembali ke gue, semua control ada di gue. Bagaimana cara gue mengontrol emosi si bungsu, bagaimana gue cara gue berbagi, bagaimana cara gue berbicara sama dia, bagaimana gue memperlakukan dia, karena semua berbalik lagi ke kita. Ya, hukum timbal balik. Dan ternyata si bungsu itu adalah refleksi gue. Yang awalnya gue kira emang wataknya begitu, ternyata dia begitu atas perlakuan gue ke dia.
Semua ada result diakhir, dan selama gue masih bisa memperbaiki kelakuan-nol, itu baru permulaan.

Bener kata Beyonce “What goes around comes back around, hey my baby”.

Karena setiap apa yang kita lakukan akan berbalik atau berimbas kepada diri kita sendiri. Salah satunya adek gue, dia adalah refleksi atas kelakuan gue ke dia. Jadi kalo dia act like a jerk and being dumbass to me, itu karena gue memperlakukan hal yang sama ke dia. Dan someday, all these things that i have made akan diminta pertanggung jawbannya di akhirat nanti.

Itu sebabnya kenapa si sulung diberikan misi menjadi panutan dan si bungsu sebagai tempat si sulung berkaca.

Clink Clank
Sazha

Comments

Anonymous said…
This comment has been removed by a blog administrator.

Popular Posts